Blog

Kembali ke blog
Serial Cara Mendidik Anak #6 : Melakukan Aktivitas Bareng Anak

Kali ini kita akan membahas mengenai cara mendidik anak dengan menyediakan waktu untuk bersama. Waktu untuk bersama dengan anak-anak itu bisa kita gunakan dan manfaatkan menjadi 10 moment yang spesial buat anak-anak dan kita untuk selain berinteraksi membangun hubungan orang tua anak juga menjadi momen untuk mendidik anak secara Informal.
Ke-10 moment kegiatan bersama itu bisa kita uraikan sebagai berikut :
Yang pertama untuk bisa mendidik anak dengan secara informal kita bisa lakukan dengan melakukan jalan-jalan di taman bersama anak. Bermain di taman harus dimanfaatkan dengan maksimal oleh orang tua. Jangan hanya diam, bahkan yang paling penting adalah melakukan kegiatan bersama sambil sekali-kali menyampaikan hal-hal yang sifatnya mendidik anak. Berdialog untuk menanyakan kesenangannya, kejadian yang menjadi perhatiannya. Menurut Ahli cara mendidik anak yang paling efektif adalah secara informal sambil bermain di taman kita juga memasukkan ajaran ajaran kebaikan, ajaran moral. Pada momen itu juga kita bisa mempertanyakan perasaan, mereka feedback mereka, sekaligus kita bisa juga memberikan update mengenai perbaikan perbaikan yang harus mereka lakukan. Nah itu yang pertama.
Kemudian yang kedua cara mendidik anak secara informal bisa dilakukan dengan bersama-sama nonton film di bioskop atau nonton bareng di rumah. Kenapa ? karena ketika kita menonton bareng di situ bisa ada komunikasi, ada diskusi antara keluarga, pada saat itu kita bisa mengetahui apa yang secara spesifik diinginkan oleh anak, kemudian bisa juga diskusi tentang apa yang orang tua inginkan diperbaiki oleh anak.
Termasuk juga pesan moral yang harus sampai ketika nonton film atau acara tertentu di TV. Disitu kita bisa tahu kecenderungan anak ke mana, kemudian cara kita mendidik anak sesuai dengan tontonannya. Ulasan acara TV kesenangan anak ini bisa menjadi awal pembicaraan topik serius kita dengan anak.
Selanjutnya yang ketiga adalah bersama-sama untuk mendatangi Tempat yang mereka senangi seperti toko mainan atau juga toko makanan yang menjadi favorit mereka. Selanjutnya kita belikan makanan atau mainan yang menjadi kesenangannya. Nah Pada kesempatan jika kita tahu cara mendidik anak yang efektif maka momen ini kita juga bisa mengetahui apa yang menjadi Keinginan mereka, apa yang menjadi karakter idola atau cita-cita mereka. Dari karakter-karakter animasi / kartun itu bisa kita mulai tahu bahwa apa yang menjadi cita-cita, apa yang menjadi fantasi dan ide kreatif mereka dapat bahan pembicaraan kita dengan mereka ketika secara santai. Itu cara yang ke-3 untuk mendidik anak melalui kegiatan bersama.
Cara keempat untuk kebersamaan dan sekaligus memberikan pendidikan kepada anak adalah melihat pertunjukan pengembangan bakat mereka kemudian memberikan penilaian kita terutama motivasi kepada mereka. Contoh yang paling sederhana misalnya pertunjukan mereka terkait dengan robot. Mereka membuat robot bersama kita dari kardus kemudian kita yang memberikan tanggapan terkait dengan robot mainan yang telah mereka buat.
Bisa juga dengan pertunjukan seni. Mereka diberikan kesempatan untuk tampil memainkan alat musik, menari ataupun juga membuat konser. Dari konser yang mereka buat itu kita memberikan feedback seperti apa yang kita suka dari penampilan mereka, atau apa yang sebaiknya diperbaiki dari penampilannya agar lebih keren lagi.
Nah ini merupakan momen yang sangat berharga selain untuk meningkatkan kapabilitas mereka menggali talenta-talenta yang mereka miliki, kita juga bisa memberikan pemahaman pemahaman moral saling menghargai kemudian kemampuan afektif atau bersikap terhadap seni sehingga mereka memiliki perasaan yang lebih dalam bentuk saling menghargai antar sesama dan terutama adalah mereka bisa mengembangkan bakat yang telah mereka miliki.
Cara yang kelima adalah melakukan sesuatu bersama secara aktif misalnya bersepeda bareng atau melakukan olahraga bareng atau bahkan ada yang bareng melakukan climbing / Pendakian Gunung. Bisa juga dengan mengajak mereka berenang,mengajak mereka ke sawah, berpetualang ke hutan. Itu juga adalah cara yang informal untuk bisa menanamkan nilai-nilai tentang alam sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral kepada anak kita. Dan tidak kalah pentingnya adalah membangun hubungan baik dengan anak melalui aktivitas bersama yang cukup menantang.
Cara yang keenam untuk membina hubungan sekaligus memberikan pendidikan anak secara informal adalah berjalan bersama untuk makan bareng. Makan bareng sesuatu yang sederhana tapi pada saat makan bareng itulah kita bisa membangun kebersamaan, kita berdialog dengan anak-anak, kita menyampaikan pesan-pesan moral, Kita juga bisa mendapat feedback dari mereka terutama adalah kita mendapatkan hubungan yang lebih dengan anak kita.
Cara yang ketujuh adalah dengan melakukan olahraga bersama, misalnya saja melakukan sepak bola bersama dengan anak, latihan memanjat dengan anak atau bisa juga dengan latihan karate atau beladiri. Pada saat olahraga bareng ini kita bisa mendidik anak dengan menanamkan rasa percaya diri, kemudian keinginan untuk berprestasi dan bisa juga pemahaman tentang kesehatan.
Cara mendidik anak untuk kesehatan tidak harus dengan ceramah tetapi dengan mengikuti event-event olahraga kita bisa menanamkan informasi terkait bagaimana membangun kehidupan yang sehat dengan berolahraga dengan melakukan bela diri misalnya, fokus dan lain sebagainya.
Selanjutnya cara kedelapan yang bisa kita lakukan adalah melakukan kunjungan ke museum atau kebun binatang atau galeri seni. Bisa dilakukan untuk mengetahui bagaimana selera mereka terhadap sesuatu baik itu terkait dengan barang-barang yang sifatnya antik, kemudian kisah-kisah perjuangan dan kepahlawanan, kemudian Bagaimana interaksi dengan makhluk hidup lainnya. Itu bisa kita tanamkan. Nah ini cara mendidik anak untuk mengetahui selera seninya.
Selanjutnya cara kesembilan untuk mendidik anak dengan bersama-sama melakukannya adalah berkunjung atau bersilaturahmi ke tetangga-tetangga ke kenalan-kenalan atau sekedar jalan-jalan di sekitaran Kompleks. Ini gunanya Apa? gunanya adalah untuk menanamkan rasa kekeluargaan. Bagaimana membangun silaturahmi? kemudian Bagaimana saling menghargai dengan tetangga atau kerabat sehingga tepo seliro, gotong royong, tolong-menolong itu ada di benak mereka. Mereka tidak menjadi individualistis tapi mereka merasa bagian dari sebuah komunitas yang harus mereka jaga keberadaannya.
Terakhir yang kesepuluh adalah kita belanja bareng. Apa gunanya kita belanja ? dalam kerangka cara mendidik anak adalah untuk mengetahui apa yang menjadi keinginan mereka untuk ada di tempatnya privatnya. Misal di kamarnya, apa yang mereka inginkan ada di kamarnya ? untuk meja belajar meja belajar yang seperti apa yang mereka inginkan ? Selain itu mengajak mereka berbelanja akan mengasah mereka untuk bisa mengambil keputusan, karena ketika orang berbelanja banyak sekali pilihan-pilihan yang ada didalamnya. Dengan kita memberikan arahan bahwa tidak semua barang harus mereka beli mereka akan berusaha untuk menentukan satu atau dua barang yang akan dibeli yang paling penting buat.
Inilah cara kita mendidik anak untuk memberikan kemampuan problem solving atau mengambil keputusan.
Nah itulah 10 cara mendidik anak secara informal dengan cara mengajak mereka bersama-sama melakukan aktivitas untuk membina hubungan baik dengan anak.
Semoga ini bisa bermanfaat bagi kita semuanya dalam mendidik anak.
Perlu jadi catatan bahwa 10 tips untuk mendidik anak dalam rangka membangun hubungan sekaligus menanamkan pendidikan moral ini adalah inspirasi dari artikel Valeria Plowman.
Terima kasih, salam manfaat......salam Emak-Emak

Serial Cara Mendidik Anak #5 : MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI ANAK

Baiklah pada saat ini saya akan melakukan sharing terkait dengan Bagaimana cara mendidik anak kita untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Kita semua sangat concern dengan anak-anak termasuk aspek psikologis dari anak-anak yang ada di Indonesia. Nah mari Kita mulai mengulas satu persatu faktor dan langkah yan harus diambil orang tua atau cara mendidik anak untuk membangun karakter Percaya Diri pada Anak. 

Poin pertama yang yang menjadi perhatian kita dalam mendidik anak adalah tidak mungkin kita memberikan atau membangun Kepercayaan Diri (PD) kepada anak jika diri kita sendiri belum PD. Contoh yang paling sederhana adalah analogi bagaimana melakukan ujian untuk bisa mendapatkan SIM (surat Izin Mengemudi), itu sangat sering terjadi bahwa beberapa kali diulang baru bisa lulus. Sangat jarang orang yang bisa lulus dalam 1 kali ujian. Tapi kalau dia sudah dua kali atau tiga kali PDnya akan semakin tinggi. Orang itu akan semakin yakin untuk bisa melakukannya. 

Sama juga dengan kepercayaan diri anak. Semakin sering kita menemani untuk menyelesaikan ujian, bukan menghindarinya atau bahkan memarahimya, maka pada suatu saat nanti PD itu akan menjadi karakter dari anak. Inti dari semua cara untuk meningkatkan kepercayaan diri anak adalah bagaimana tantangan-tantangan psikologis yang dihadapi oleh anak itu bisa diselesaikan bukan dihindari tapi bisa diselesaikan. 

Nah pasti dalam kehidupan ini setiap anak akan menghadapi ujian di setiap masa perkembangannya. Kalau Ujian-ujian itu bisa dilewati, maka hal itu akan semakin meningkatkan PD Anak. Kesalahan adalan bagian dari proses untuk membangun PD anak, Cuma tidak boleh pada kesalahan yang bersifat moril dan berulang....Kesalahan yang bersifat moril harus diedukasi dan dinasehatkan dengan baik, tapi kesalahan karena melakukan aktivitas yang menantang atau melakukan ha-hal baru perlu terus dikembangkan. Itulah cara mendidik anak yang cukup simple.

Pada kesempatan pertama, kesempatan kedua atau yang ketiga belum bisa sukses maka harus kita motivasi untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka. Kita sampaikan saja evaluasi kita bahwa oke... yang kali ketiga pasti bisa. Penerapannya kepada anak-anak kita kalau dari awal anak-anak kita tidak diberikan motivasi bahwa kegagalan itu adalah bagian dari kesuksesan, maka PD anak itu tidak akan pernah meningkat. Anak-anak akan cenderung menjadi orang yang takut untuk berbuat, takut untuk melakukan kesalahan, takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Kenapa ? karena takut ada konsekuensinya. 

Yang paling sederhananya waktu dia masih kecil konsekuensinya kena marah dari orang tua. Atau kena omel dari orang tua. Para Orang tua (emak-emak) harus sadar nih bahwa omelan, kemarahan itu dampaknya sangat besar untuk kepercayaan diri anak. Kalau kita menginginkan anak kita punya tingkat kepercayaaan diri tinggi, jauhkan dulu dari yang namanya marah. Kita yang harus mengatur / mengontol / memanage kemarahan kita. Karena kalau semakin marah itu bukan menyebabkan anak kita semakin PD, tapi anak kita akan justru semakin tidak percaya diri. Kenapa takut berbuat salah, takut melakukan sesuatu yang baru, karena yakin bahwa akan ada konsekuensi dari apa yang dia lakukan. 

Berbeda dengan anak-anak yang diberikan motivasi. Kalau anak-anak diberi motivasi maka oke kali pertama dia akan mencoba meskipun gagal... kemungkinannya memang menangis tapi kali kedua dia mencoba dengan kita memberikan dorongan dia merasa ada yang mendukungnya. Dia akan terus mencoba lagi melakukannya kali kedua dia merasa ada kemajuan. Maka kali ketiga dia mencoba apalagi kita sebagai orang tua tetap memberikan motivasi maka pada saat itu kesuksesan anak-anak tercapai. 

Dia akan merasakan bahwa ternyata Saya bisa melewati ujian itu. Kata-kata ini kunci dari percaya diri. "Saya bisa menyelesaikan ujian itu", "saya berhasil", "saya sukses". Dan kesuksesan yang besar pasti datangnya dari kesuksesan-kesuksesan kecil.. kecil... kecil... tapi terus menerus akhirnya akan memotivasi untuk membuat kesuksesan yang besar. Jadi kata kunci dari meningkatkan kepercayaan diri adalah :

Ayo mulai dari emak-emak sekalian kalau mama tidak PD, tidak percaya diri untuk melihat anak-anaknya maju Jangan harap anak-anaknya akan maju akan sukses. Tapi kalau mau melihat anak-anaknya sukses maka cara mendidik anak yang pertama diterapkan adalah Orang tua yang harus percaya diri terlebih dahulu sebelum anaknya.

Itu saja yang bisa saya share pada kali hari ini mudah-mudahan ada manfaatnya. Sekali lagi kunci dari peningkatan kepercayaan diri anak adalah :

  1. Yang pertama Orang tua harus meyakini dirinya bahwa dia juga PD.
  2. Kunci kedua orang tua yang selalu akan memberikan kesempatan kepada anaknya, dan toleransi atas kesalahan anak.y
  3. Yang ketiga orang tua yang PD akan memberikan motivasi kepada anaknya untuk lebih maju
  4. Yang keempat orang tua yang PD akan memberikan peluang tantangan baru, ujian baru kepada anaknya supaya semakin terasa semakin berani untuk melakukan hal-hal yang baru.
  5. Dan yang terakhir adalah respek dan memberikan pujian kepada anak yang telah melakukan sesuatu yang lebih bagus setelah menyelesaikan suatu permasalahan atau tidak tergantung kepada penyelesaian dari orang tua
Demikian Terima kasih mudah-mudahan ini bermanfaat buat emak gaul sekalian untuk kebaikan buah hati kita semua.

Terima kasih Semoga manfaat.

Serial Cara Mendidik Anak #4 : MENGENAL KEMAMPUAN ANAK PADA USIA 6-10 TAHUN

Selain mengenali ciri-ciri/karakteristik anak sesuai usianya, orangtua agar tahu cara mendidik anak yang sesuai juga harus mengetahui tugas-tugas perkembangan, yakni kemampuan yang harus mereka pelajari di usia ini untuk mencapai usia selanjutnya. Dengan mengetahui tugas perkembangan (kemampuan) yang harus dicapai, orangtua dapat memberi kegiatan yang dapat membantu anak untuk bisa melakukan apa yang seharusnya. Bila anak dapat menguasai tugas perkembangan sesuai usianya maka akan memudahkan untuk melampaui perkembangan di usia selanjutnya.
Apa kemampuan yang harus dicapai selama usia 6-10 tahun? 

1. Mengenal Tuhan melalui ciptaanNya
2. Memahami adanya kesertaan Tuhan dalam kesehariannya
3. Mampu beribadah sesuai agama masing-masing
4. Membiasakan diri untuk membaca do’a-do’a sehari hari
5. Membentuk hati nurani, nilai moral, dan nilai sosial dengan mengenal aturan dan adab sehari-   hari berdasarkan budaya dan agama masing-masing.
6. Belajar keterampilan fisik untuk melakukan permainan, seperti bermain sepak bola, loncat tali, berenang, bersepeda, dll.
7. Anak belajar hidup sehat, dengan memperhatikan kebersihan diri dan lingkungannya.
8. Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya, dengan bermain bersama teman-temannya.
9. Belajar bertingkah laku (berpakaian, berbicara dll) sesuai jenis kelaminnya.
10.Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis, berhitung
11.Belajar mengembangkan konsep sehari-hari, seperti mengenal waktu, bahasa
12.Memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Dengan belajar mandiri dan dihargai sebagai dirinya sendiri.
13.Belajar bekerjasama/gotong royong, bekerja dalam tim
14.Belajar displin mematuhi aturan di keluarga, di sekolah dan di masyarakat
15.Belajar bertanggung jawab atas konsekwensi dari pilihannya. 

Cara mendidik anak dengan ciri seperti ini adalah menghadirkan kegiatan di rumah dan di sekolah sebaiknya membantu anak untuk bisa memiliki kemampuan dan ketrampilan sesuai tugas perkembangannya di usianya ini. Sehingga kelak ia bisa tumbuh lebih baik diusia selanjutnya.

Di usia ini anak juga mengalami perkembangan otak yang meningkat. Anak-anak berpikir lebih cepat dan lebih efektif. Kemampuan ini memungkinkan anak untuk belajar dengan baik dan orangtua sebaiknya memberi anak informasi dengan mengajak anak berbicara, berdiskusi, menyediakan buku cerita, cara mendidik anak pada kondisi ini adalah mengajak anak berkunjung ke tempat-tempat bersejarah dan tempat wisata. Dengan adanya kesempatan melihat obyek-obyek langsung dan bertukar pikiran dengan orangtua atau dengan orang lain yang lebih berilmu, maka anak akan memiliki wawasan yang luas dan kepintarannya akan bertambah.

Bkkbn Indonesia

Serial Cara Mendidik Anak #2 : Mendidik Anak di era Digital

Cara Mendidik anak pada era digital ini akan semakin menantang dimana ada perubahan pola dibanding era sebelumnya. Orang tua tidak boleh kalah dengan perkembangan teknologi digital, harus terdapat upgrade pengetahuan juga yang menyesuaikan dengan aspek psikologis anak.
Berikut ini adalah tips Cara mendidik anak berdasar usianya terkait dengan era digital.
 
Cara Mendidik Anak Usia 8-12 tahun

1. Memiliki kesepakatan yang dipahami dan dijalani bersama, memonitor pelaksanaannya, konsisten menerapkan konsekuensi atas pelanggaran, dan memberikan apresiasi atas keberhasilan dalam menjalankan
kesepakatan.
2. Memanfaatkan program atau video yang menunjukkan berbagai pengalaman positif yang menstimulus imajinasi.
3. Mendiskusikan perilaku baik dan tidak dari karakter di media yang mereka kenal.
4. Diskusikan hal-hal terkait peran laki-laki dan perempuan.
5. Menghindari tayangan program media digital yang menampilkan agresivitas, antisosial, dan perilaku negatif lainnya.
6. Memberikan pemahaman tentang lelucon mengenai anggota tubuh.
7. Menghindari tayangan iklan yang bertebihan terutama mengenai pola dan nutrisi makanan yang tidak sehat.
8. Menghindari tayangan gambar atau iklan rokok.

Selanjutnya Cara mendidik anak untuk usia Remaja (12-18 tahun)

1. Memiliki kesepakatan yang dipahami dan dijalani bersama, memonitor pelaksanaannya, konsisten menerapkan konsekuensi atas pelanggaran, dan memberikan apresiasi atas keberhasilan anak dalam menjalankan kesepakatan.
2. Memperkenalkan keanekaragaman, ras, etnis dan situasi ekonomi.
3. Mengajak anak berpikir kritis atas tayangan informasi dengan cara mengajukan pertanyaan seperti: "Menurut kamu apa yang paling menarik dari video ini?"
4. Memanfaatkan tayangan pada media dan iklan untuk membicarakan berbagai karakter.
5. Memanfaatkan media blogs untuk melatih anak berpikir kritis dan membimbing mereka untuk menjadi penulis, bukan hanya pembaca
6. Mengajak anak untuk mengeksploarsi lebih jauh minat dan bakatnya.
7. Menghindari tayangan iklan rokok, minuman keras, dan narkoba.
8. Menanamkan etika berkomunikasi positif di media sosial
9. Memperhatikan pengaturan privasi dalam media digital, khususnya media sosial.
10. Membatasi aktifitas anak di sosial media.

Menjadi (lebih) peduli, bukan berarti orang tua harus piawai dan paham segala macam hal dan istilah teknis dari perangkat dan media digital yang akan dibeli atau telah digunakan oleh anaknya. Selama anak masih tergantung kepada orang tua, maka orang tua wajib mengetahui, bukan membatasi, untuk apa dan bagaimana perangkat dan media digital digunakan oleh anak.
Orang tua sebaiknya paham, bahwa perangkat dan media digital adalah teknologi yang bak pisau bermata dua. Apabila Salah digunakan, bisa mencelakai penggunanya. Semakin canggih perangkat dan media digital yang digunakan, semakin "tajam pisau"-nya. Ini membutuhkan ekstra tanggung-jawab dari penggunanya, ataupun orang tua. Menjadi awal kesalahan apabila orang tua dalam mendidik anak menyerahkan keputusan menggunakan perangkat dan media digital sepenuhnya kepada anak.
Perilaku berkomunikasi internal keluarga dan peran orang tua adalah faktor dominan dan penentu untuk melindungi anak dan keluarga dari penggunaan perangkat digital dan paparan media digital.

Direktorat Pembinaan Pendidikan Ketuarga
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
2016