Blog

Kembali ke blog
Serial Cara Mendidik Anak #4 : MENGENAL KEMAMPUAN ANAK PADA USIA 6-10 TAHUN

Selain mengenali ciri-ciri/karakteristik anak sesuai usianya, orangtua agar tahu cara mendidik anak yang sesuai juga harus mengetahui tugas-tugas perkembangan, yakni kemampuan yang harus mereka pelajari di usia ini untuk mencapai usia selanjutnya. Dengan mengetahui tugas perkembangan (kemampuan) yang harus dicapai, orangtua dapat memberi kegiatan yang dapat membantu anak untuk bisa melakukan apa yang seharusnya. Bila anak dapat menguasai tugas perkembangan sesuai usianya maka akan memudahkan untuk melampaui perkembangan di usia selanjutnya.
Apa kemampuan yang harus dicapai selama usia 6-10 tahun? 

1. Mengenal Tuhan melalui ciptaanNya
2. Memahami adanya kesertaan Tuhan dalam kesehariannya
3. Mampu beribadah sesuai agama masing-masing
4. Membiasakan diri untuk membaca do’a-do’a sehari hari
5. Membentuk hati nurani, nilai moral, dan nilai sosial dengan mengenal aturan dan adab sehari-   hari berdasarkan budaya dan agama masing-masing.
6. Belajar keterampilan fisik untuk melakukan permainan, seperti bermain sepak bola, loncat tali, berenang, bersepeda, dll.
7. Anak belajar hidup sehat, dengan memperhatikan kebersihan diri dan lingkungannya.
8. Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya, dengan bermain bersama teman-temannya.
9. Belajar bertingkah laku (berpakaian, berbicara dll) sesuai jenis kelaminnya.
10.Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis, berhitung
11.Belajar mengembangkan konsep sehari-hari, seperti mengenal waktu, bahasa
12.Memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Dengan belajar mandiri dan dihargai sebagai dirinya sendiri.
13.Belajar bekerjasama/gotong royong, bekerja dalam tim
14.Belajar displin mematuhi aturan di keluarga, di sekolah dan di masyarakat
15.Belajar bertanggung jawab atas konsekwensi dari pilihannya. 

Cara mendidik anak dengan ciri seperti ini adalah menghadirkan kegiatan di rumah dan di sekolah sebaiknya membantu anak untuk bisa memiliki kemampuan dan ketrampilan sesuai tugas perkembangannya di usianya ini. Sehingga kelak ia bisa tumbuh lebih baik diusia selanjutnya.

Di usia ini anak juga mengalami perkembangan otak yang meningkat. Anak-anak berpikir lebih cepat dan lebih efektif. Kemampuan ini memungkinkan anak untuk belajar dengan baik dan orangtua sebaiknya memberi anak informasi dengan mengajak anak berbicara, berdiskusi, menyediakan buku cerita, cara mendidik anak pada kondisi ini adalah mengajak anak berkunjung ke tempat-tempat bersejarah dan tempat wisata. Dengan adanya kesempatan melihat obyek-obyek langsung dan bertukar pikiran dengan orangtua atau dengan orang lain yang lebih berilmu, maka anak akan memiliki wawasan yang luas dan kepintarannya akan bertambah.

Bkkbn Indonesia

Serial Cara Mendidik Anak #3 : MENGENAL 7 (TUJUH) CIRI PERKEMBANGAN  ANAK USIA 6-10 TAHUN

Agar Emak-emak tahu cara mendidik anak sesuai usianya, maka perlu emak-emak kenali ciri-ciri baik fisik, motorik, bahasa dan aspek psikis anak. Berikut kami uraikan ciri dan cara mendidik anak berdasar usianya.

A. Ciri-ciri anak usia 6-10 tahun

Anak usia 6-10 tahun sering juga disebut anak usia sekolah dasar (SD) awal atau kelas rendah (kelas 1-4 SD). Di usia ini anak mengalami perkembangan yang berbeda dengan usia dibawahnya, terutama kemampuan gerak dan bahasanya. Anak lebih gesit dan lincah bergerak juga sudah dapat bicara dengan lancar. Kemampuan berpikir juga berkembang pesat seiring dengan pembelajaran yang mereka dapatkan di sekolah dan di rumah.
Umumnya ciri-ciri yang terlihat pada anak usia ini adalah :
1. Perkembangan Fisik dan Motorik
  a. Tinggi dan berat badan
      Anak-anak usia sekolah, di awal usia 6 tahun memiliki tinggi mulai dari sepinggang orang dewasa, atau kira-kira 114 cm. Dan berat badan kira-kira 21 kg. Sampai 36 kg di usia 10 tahun beberapa ada yang bahkan sepundak orang dewasa (sekitar 140 cm). Dengan berat badan sekitar 33 kg. Ukuran badan yang lebih besar terutama pada anak perkotaan yang mendapat makanan bergizi yang lebih baik.
  b. Motorik kasar, (gerakan kaki dan tangan) Selama masa usia sekolah, kemampuan dan ketrampilan gerak anak nampak sangat meningkat, sudah bisa berjalan lurus, berlari, melompat, loncat dan menendang bola. Mereka juga sudah terampil untuk naik turun tangga tanpa dibantu. Sehingga dapat gunakan ketrampilan ini dalam permainan sehari-hari. Umumnya mereka senang bermain bola, atau permainan lain yang melatih mereka berlomba. keseimbangan badan juga sudah baik, sehingga sudah bisa berdiri dengan satu kali dan tidak mudah jatuh.
  c. Motorik halus, (gerakan jari-jari tangan)
      Keluwesan dan kekuatan jari tangan juga sudah terlihat baik. Anak umumnya sudah dapat melakukan kegiatan yang membutuhkan keterampilan tangan seperti merobek, memeras, memilin, memotong, menggunting dll. Mereka juga sudah bisa menggunakan sendok untuk mengambil atau menyuap makanan. Terutama bila mereka memang diberi kesempatan di usia sebelumnya untuk melatih tangannya. Beberapa anak sudah dapat menggunakan alat tulis untuk menggambar atau menulis huruf dan angka. Diakhir usia 10 tahun umumnya mereka sudah bisa menggunakan tangannya untuk berbagai keterampilan seperti menulis halus, menjahit, menganyam dsb.
2. Perkembangan daya pikir
  Seiring dengan masuknya anak kesekolah dasar, kemampuan daya pikir anak akan turut mengalami peningkatan yang pesat. Karena pembelajaran akan menambah pengetahuan mereka tentang berbagai hal. Mereka juga sudah mulai dapat menghitung, mengelompokkan benda. Membandingkan dan mengurutkan berdasarkan ukuran benda. Mulai mengenal waktu berdasarkan hari, tanggal, jam dst. Anak juga sudah bisa menyebutkan dan mengingat benda-benda di sekitarnya. Di usia ini anak masih belajar dengan secara langsung melihat atau memegang bendanya. Misalnya dia akan belajar mengenal buah-buahan, maka ia harus diperlihatkan dan memegang buah itu secara langsung. Begitu juga bila ia belajar menjumlah, maka harus ada benda yang langsung bisa ia jumlahkan, bisa dengan jarinya atau benda lain (lidi, batu, kue dll). Anak usia ini juga memiliki kreativitas yang baik, bisa punya ide-ide baru, membuat sesuatu yang unik/berbeda dengan yang lain.
3. Perkembangan bahasa
  Anak usia 6-10 tahun umumnya sudah bisa mengerti apa yang diucapkan orang-orang disekitarnya, dengan bahasa daerah masing-masing. Mereka juga sudah bisa menyampaikan apa yang mereka inginkan dengan kalimat yang bisa di mengerti orang lain. Mereka umumnya sudah bisa bercakap-cakap dan tanya jawab. Sudah bisa menjawab pertanyaan apa, siapa, dimana dan mengapa. Mereka juga sudah bisa menyebutkan namanya dan nama orang tua. Kosa kata, tata kalimat dan penggunaan bahasa terus berkembang. Sekolah membantu anak untuk terus berkembangnya kemampuan berbahasa ini. Orangtua juga dapat membantu menambah perbendaharaan kata anak dengan seringnya membaca buku. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya menyediakan buku-buku bacaan yang bermanfaat untuk anak atau mengajak anak ke taman bacaan atau perpustakaan daerah. Orang tua juga harus banyak mengajak anak tanya jawab, bercerita dan berbicara/ ngobrol.
4. Perkembangan sosial emosi
  Di usia ini anak senang bermain ke luar rumah bersama teman seusianya. Permainan yang disukai biasanya permainan yang banyak memungkinkan kebersamaan dan ada unsur perlombaan/kompetisi. Itu kenapa anak usia ini suka dengan permainan yang menantang. Mereka sudah bisa mengikuti aturan permainan yang disepakati.
  Pada usia sekolah, anak mulai mengenali perasaannya. Mereka sudah tahu apakah sedang sedih, marah, takut, senang dll. Dapat mengekspresikan perasaannya seperti Saya senang mendapat hadiah dari nenek tapi saya sedih karena hadiah yang saya dapatkan tidak sesuai dengan harapan saya .” Tetapi mereka belum betul-betul dapat mengendalikan perasaannya. Apalagi bila orangtua tidak mengajarkannya.
  Biasanya di usia ini anak sudah tidak lagi tantrum/ngambek atau berteriak atau berguling-guling bila marah. Bagaimana anak menyampaikan perasaannya sangat tergantung pada bagaimana contoh yang diberikan orangtua. Bila orangtua marah dengan berteriak atau melempar benda, maka akan akan melakukan hal yang sama. Sebaliknya bila orangtua bersabar saat marah, maka anak juga akan belajar bersabar. Mengekpresikan perasaannya sesuai situasi kondisi. Mereka sudah dapat menjaga perilakunya di hadapan orang yang mereka segani, misalnya di depan guru. Anak usia sekolah umumnya ingin dianggap menjadi anak yang baik, sehingga umumnya mereka menjadi anak yang patuh dan terlihat baik.
  Anak senang bermain dan berkumpul dengan teman sebaya, terutama yang satu jenis kelamin. Mereka umumnya belum tertarik dengan lawan jenis. Diatas usia 10 tahun, baru mulai muncul ketertarikan dengan lawan jenis.
5. Perkembangan Kepribadian
  Anak-anak mulai dapat menggambarkan dirinya dengan ciri- ciri yang membedakan dia dengan teman-teman sebayanya sesuai kelebihan dan kekurangannya, apakah ia merasa cantik, pintar, tinggi dsb. Misalnya : “Saya seorang yang pandai bernyanyi tapi tidak pandai berhitung."
  Penilaian terhadap dirinya juga dipengaruhi oleh lingkungan. Bila selalu mendapat ejekan, direndahkan apalagi bila diberi julukan jelek akan membuat anak menjadi tidak percaya diri.
  Anak yang baik konsep dirinya dipengaruhi oleh dukungan cinta dan perhatian secara lahir batin kedua orang tuanya. Perlakuan yang selalu mendukung dan menerima anak apa adanya serta menghargai hasil karyanya sekecil apapun membuat anak percaya diri. Dia merasa bahwa dia mampu melakukan hal-hal baru yang menyenangkan buat dirinya dan orang lain.
Berikut ciri anak usia 6-10 tahun yang percaya diri:
 - Selalu ceria dan spontan.
 - Mau bercerita kepada kedua orang tuanya, bersikap terbuka dan berbinar matanya.
 - Tidak mudah di takut-takuti atau lebih bersikap rasional dalam berperilaku.
 - Berani mencoba hal-hal baru dan berteman dengan teman baru.
 - Mengembangkan hobi dan pengetahuan baru.
 - Berkelompok dan memiliki teman akrab, pergi bersama ke taman atau lapangan bersama teman tanpa ditemani orangtua.
 - Anak laki-laki lebih suka bermain fisik, seperti main bola, naik sepeda dll.
 - Anak perempuan lebih bersikap agak pemalu dan mulai bersikap seperti orang dewasa. Lebih bersabar dan bicara rahasia. Sebagian sudah berani menceritakan idolanya kepada ibunya.
 - Berani membeli kebutuhannya sendiri ke toko
 - Saling berbagi dengan kakak dan adiknya.
 - Berani menyampaikan perasaan dan pendapatnya.
 - Anak sudah mulai meniru tingkah laku orang yang menjadi contoh teladan bagi dirinya. Misalnya potongan rambutnya, cara berpakaian, dll, mengikuti siapa idolanya.
 - Di akhir usia 10 tahun, anak akan semakin memperhatikan penampilannya, dan mulai memperbaiki gayanya sesuai dengan harapannya. Karena itu biasanya mulai muncul kebutuhan akan benda-benda yang mendukung penampilannya. Misalnya mulai senang pakai minyak wangi, sering menyisir dan bercermin, dll.

6. Perkembangan moral dan spiritual
  Dalam usia ini, anak sudah bisa menilai hukuman atau akibat yang diterimanya berdasarkan tingkat hukuman dari kesalahan yang dilakukannya. Sehingga ia sudah bisa mengetahui bahwa berperilaku baik akan mampu membuatnya jauh atau tak mendapatkan konsekuensi dari perbuatannya. Anak sudah bisa memilih mana perbuatan yang baik berdasarkan akibat dari perbuatannya itu. Jadi anak sudah bisa belajar mengenali akibat/konsekuensi perbuatannya. Anak menjaga perilaku untuk menjaga hubungannya dengan orang di sekitarnya. Dia jadi anak baik, supaya tidak dimarahi atau tidak ditegur guru.
7. Perkembangan psikoseksual
  Selama masa ini, anak-anak secara bertahap memperhatikan bahwa tubuh mereka berbeda dari tubuh orangtua, lawan jenis, dan kakak adik mereka. Mereka menjadi kagum dengan tubuh mereka sendiri dan tubuh orang lain. Pada tahap ini ada beberapa hal sering dilakukan anak antara lain:
  • Mereka mulai mencoba mengamati tubuhnya dan orang lain. Mereka mulai bertanya tentang perbedaan lelaki dan perempuan. Memperkuat identitas gender nya berdasarkan kesamaan ciri- ciri nya.
  • Anak mulai bertingkah laku meniru orangtua atau tokoh yang sesuai jenis kelaminnya.
  • Pada masa ini peran sesuai jenis kelamin mulai disadari. Anak laki-laki akan berperilaku seperti seharusnya anak lelaki. Begitu juga anak perempuan akan berperilaku sebagaimana perempuan seharusnya.


Jakarta, Agustus 2017 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Serial Cara Mendidik Anak #2 : Mendidik Anak di era Digital

Cara Mendidik anak pada era digital ini akan semakin menantang dimana ada perubahan pola dibanding era sebelumnya. Orang tua tidak boleh kalah dengan perkembangan teknologi digital, harus terdapat upgrade pengetahuan juga yang menyesuaikan dengan aspek psikologis anak.
Berikut ini adalah tips Cara mendidik anak berdasar usianya terkait dengan era digital.
 
Cara Mendidik Anak Usia 8-12 tahun

1. Memiliki kesepakatan yang dipahami dan dijalani bersama, memonitor pelaksanaannya, konsisten menerapkan konsekuensi atas pelanggaran, dan memberikan apresiasi atas keberhasilan dalam menjalankan
kesepakatan.
2. Memanfaatkan program atau video yang menunjukkan berbagai pengalaman positif yang menstimulus imajinasi.
3. Mendiskusikan perilaku baik dan tidak dari karakter di media yang mereka kenal.
4. Diskusikan hal-hal terkait peran laki-laki dan perempuan.
5. Menghindari tayangan program media digital yang menampilkan agresivitas, antisosial, dan perilaku negatif lainnya.
6. Memberikan pemahaman tentang lelucon mengenai anggota tubuh.
7. Menghindari tayangan iklan yang bertebihan terutama mengenai pola dan nutrisi makanan yang tidak sehat.
8. Menghindari tayangan gambar atau iklan rokok.

Selanjutnya Cara mendidik anak untuk usia Remaja (12-18 tahun)

1. Memiliki kesepakatan yang dipahami dan dijalani bersama, memonitor pelaksanaannya, konsisten menerapkan konsekuensi atas pelanggaran, dan memberikan apresiasi atas keberhasilan anak dalam menjalankan kesepakatan.
2. Memperkenalkan keanekaragaman, ras, etnis dan situasi ekonomi.
3. Mengajak anak berpikir kritis atas tayangan informasi dengan cara mengajukan pertanyaan seperti: "Menurut kamu apa yang paling menarik dari video ini?"
4. Memanfaatkan tayangan pada media dan iklan untuk membicarakan berbagai karakter.
5. Memanfaatkan media blogs untuk melatih anak berpikir kritis dan membimbing mereka untuk menjadi penulis, bukan hanya pembaca
6. Mengajak anak untuk mengeksploarsi lebih jauh minat dan bakatnya.
7. Menghindari tayangan iklan rokok, minuman keras, dan narkoba.
8. Menanamkan etika berkomunikasi positif di media sosial
9. Memperhatikan pengaturan privasi dalam media digital, khususnya media sosial.
10. Membatasi aktifitas anak di sosial media.

Menjadi (lebih) peduli, bukan berarti orang tua harus piawai dan paham segala macam hal dan istilah teknis dari perangkat dan media digital yang akan dibeli atau telah digunakan oleh anaknya. Selama anak masih tergantung kepada orang tua, maka orang tua wajib mengetahui, bukan membatasi, untuk apa dan bagaimana perangkat dan media digital digunakan oleh anak.
Orang tua sebaiknya paham, bahwa perangkat dan media digital adalah teknologi yang bak pisau bermata dua. Apabila Salah digunakan, bisa mencelakai penggunanya. Semakin canggih perangkat dan media digital yang digunakan, semakin "tajam pisau"-nya. Ini membutuhkan ekstra tanggung-jawab dari penggunanya, ataupun orang tua. Menjadi awal kesalahan apabila orang tua dalam mendidik anak menyerahkan keputusan menggunakan perangkat dan media digital sepenuhnya kepada anak.
Perilaku berkomunikasi internal keluarga dan peran orang tua adalah faktor dominan dan penentu untuk melindungi anak dan keluarga dari penggunaan perangkat digital dan paparan media digital.

Direktorat Pembinaan Pendidikan Ketuarga
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
2016

Serial Cara Mendidik Anak #1 : Membentuk Anak Sukses tanpa berlebihan

Saya tidak berencana menjadi pakar cara mendidik anak. Kenyataannya, saya tidak tertarik pada pengasuhan anak saja. Namun ada gaya dan cara mendidik anak tertentu belakangan ini yang agaknya membingungkan bagi si anak, dan menghambat kesempatan mereka untuk bertumbuh menjadi diri mereka. Ada gaya mendidik anak tertentu yang menghalanginya

Yang ingin saya katakan adalah, kita menghabiskan banyak waktu mengkhawatirkan para orang tua yang tidak cukup terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka serta pendidikan atau pola asuhnya, yang sudah pada tempatnya. Tapi di sisi lain, juga terdapat banyak kerugiannya, ketika orang tua merasa anaknya tidak bisa menjadi sukses kalau tidak dilindungi dan dibimbing dalam setiap langkahnya, mengawasi semua hal yang terjadi, mengatur setiap perilaku, dan mengarahkan anaknya dalam memilih kuliah dan karir

Jika kita membesarkan anak dan mendidik anak dengan cara seperti ini, dan saya mengatakan "kita," karena Tuhan YME tahu, ketika saya membesarkan dua anak remaja saya, saya cenderung melakukan hal yang sama, mengatur masa kecil anak-anak kita berdasarkan daftar keinginan saya

Dan daftarnya seperti ini. Kita menjaga mereka aman dan sehat, cukup makan dan minum, dan kita pastikan mereka masuk ke sekolah yang tepat, di kelas yang tepat dalam sekolah yang tepat, mendapat peringkat yang tepat di kelas yang tepat dalam sekolah yang tepat. Tidak hanya peringkatnya, nilainya juga, dan juga pujian dan penghargaan dan kegiatan olahraga, kegiatannya, kepemimpinannya. Kita katakan agar mereka tidak sekedar ikut sebuah klub, tapi dirikan sebuah klub, demi masa depannya. Dan lakukan kegiatan pelayanan masyarakat. Tunjukkan bahwa kau peduli pada orang lain.

Dan Cara mendidik anak seperti ini dimaksudkan untuk meraih suatu tingkat kesempurnaan. Kita mengharapkan anak-anak kita untuk tampil sempurna meski kita tak pernah dituntut untuk tampil sempurna, dan karena begitu banyak yang diperlukan, kita merasa bahwa tentu saja sebagai orang tua kita harus berdebat dengan setiap guru dan kepala sekolah dan pelatih dan wasit dan bertindak sebagai pengawas anak kita dan pengawas pribadi dan sekretaris, Lalu dengan anak kita tersayang kita habiskan banyak waktu untuk mendukungnya, membujuk, memberi petunjuk, membantu, bernegosiasi, terkadang juga merengek, agar mereka tidak gagal, tidak menutup pintu, tidak merusak masa depannya, beberapa berharap agar diterima masuk ke segelintir kampus yang menolak hampir semua pelamar

Beginilah rasanya menjadi anak yang masa kecilnya diatur. Pertama, tidak ada waktu untuk bermain dengan bebas. Tak ada waktu santai siang hari karena, kita merasa, setiap kegiatan harus ada unsur belajarnya. Seakan-akan setiap PR, setiap ulangan, setiap kegiatan adalah momen yang menentukan masa depan yang telah kita rancang untuk mereka, dan kita membebaskan mereka dari tugas membereskan rumah, dan bahkan membebaskan mereka dari tidur yang cukup asalkan mereka sudah melakukan rencana kegiatan yang telah kita atur. Dalam masa kecil yang serba diatur, katanya kita hanya ingin mereka bahagia, tapi waktu mereka pulang dari sekolah, hal pertama yang paling sering ditanyakan adalah PR dan nilai mereka. Yang mereka lihat di wajah kita ialah restu kita, kasih sayang kita, semua harga diri mereka, hanya jika mereka mendapatkan nilai A. Kemudian kita berjalan bersama mereka kita memuji mereka seperti pelatih di Pertunjukan Anjing Westminster.

Membujuk mereka untuk lompat lebih tinggi dan membumbung lebih jauh, hari demi hari. Saat mereka masuk sekolah menengah, mereka tidak berkata, "Oke, aku mau pilih belajar apa atau berkegiatan apa?" Mereka berkonsultasi dengan guru pembimbing, "Apa yang harus kulakukan untuk masuk ke universitas yang tepat?" Dan kemudian, saat nilai sekolah keluar, dan mereka mendapatkan nilai B, atau, amit-amit, nilai C, mereka gelisah dan meng-SMS teman-temannya dan bilang, "Pernahkah ada yang bisa masuk universitas bagus dengan nilai ini?"

Dan anak-anak kita, bagaimanapun nilai akhir sekolahnya mereka terengah-engah, Mereka menjadi rapuh. Mereka mulai kepayahan. Mereka dewasa sebelum waktunya, berharap orang-orang dewasa di sekitarnya berkata, "Yang kau lakukan sudah cukup, semua upaya yang kau lakukan di masa kecilmu sudah cukup." Dan sekarang mereka letih dalam tingkat kegelisahan dan depresi yang tinggi dan beberapa diantaranya bertanya-tanya, akankah hidup ini akan menjadi berarti?

Atau mungkin, kita hanya takut masa depan mereka tak akan bisa dibanggakan ke teman-teman kita dan tak ada stiker yang bisa kita tempel di belakang mobil. Itu semua keinginan kita tapi kemudian kita terapkan langsung kepada anak dengan cara mendidik anak sangat berlebihan.

Bukan tindakan orang tua yang mengatasnamakan dirinya, namun tindakan dirinya sendiri yang mengarahkan hasilnya. Jadi intinya, cara mendidik anak apabila anak-anak ingin membangun keyakinan diri, dan itu memang harus dilakukan, maka mereka harus lebih banyak berpikir, merencanakan, memutuskan, melakukan, berharap, berusaha mengatasi, mencoba dan gagal, bermimpi dan mengalami hidup untuk diri mereka sendiri. 

Sekarang, apakah saya bilang kalau setiap anak pekerja keras dan termotivasi dan tidak membutuhkan campur tangan orang tua dalam kehidupannya, dan kita mundur saja dan biarkan mereka? Tidak !

Bukan itu maksud saya. Maksud saya, bila kita menganggap angka, nilai, pujian, dan penghargaan sebagai tujuan masa kecil, yang semuanya ditujukan untuk lolos ujian masuk ke segelintir universitas atau jalan masuk ke segelintir peluang karir, maka definisi sukses itu terlalu sempit bagi anak-anak kita. Dan meskipun kita mungkin membantu mereka meraih keberhasilan kecil, dengan bantuan berlebih -- seperti membantu mereka mengerjakan PR dan mendapatkan nilai tinggi, kemungkinan masa kecil mereka akan lebih panjang jika kita membantu -- yang saya maksudkan ialah semua ini membawa kerugian jangka panjang terhadap jati diri mereka. Jadi kita sebaiknya mengurangi kekhawatiran kita terhadap universitas mana yang mungkin dapat mereka masuki dan jauh lebih memperhatikan kebiasaan, pola pikir, keterampilan, kesehatan dan keberhasilan kemana pun mereka melangkah. Yang ingin saya sampaikan ialah acara mendidik anak agar kita tidak terlalu terobsesi dengan nilai dan angka anak-anak kita namun lebih memperhatikan bagaimana menjadikan masa kecil mereka menyediakan dasar bagi kesuksesan mereka yang dibangun dari hal-hal seperti kasih sayang dan pembagian tugas di rumah.

Tugas di rumah? Apa benar, tugas di rumah? Ya, benar. Inilah sebabnya. Penelitian longitudinal manusia terpanjang yang pernah dilakukan adalah Penelitian Harvard Grant. Ternyata kesuksesan secara profesional dalam hidup, yang kita inginkan untuk anak-anak kita, datang dari melakukan tugas di rumah semasa kecil, dan semakin cepat dimulai, semakin baik, pola pikir singsingkan lengan bajumu dan sesuaikan diri, pola pikir yang bilang ada perkerjaan tak menyenangkan, seseorang harus melakukannya, mungkin itu aku, pola pikir yang bilang, saya akan berkontribusi untuk kemajuan secara keseluruhan, dan itulah yang membuat Anda menonjol di tempat kerja. Sekarang, kita semua tahu ini. Anda tahu hal ini.

Kita semua tahu ini, tapi, dalam daftar tugas masa kecil, kita bebaskan anak-anak dari pekerjaan di rumah, dan akhirnya mereka beranjak dewasa dan di tempat kerja masih mengharapkan adanya daftar, tapi daftar itu tak ada, dan yang lebih penting lagi, mereka kurang memiliki dorongan, naluri untuk menyingsingkan lengan baju dan menyesuaikan diri dan mengamati sekitar dan berpikir, apa yang bisa saya lakukan buat yang lain? Bagaimana mengantisipasi hal-hal yang mungkin dibutuhkan atasan saya?

Temuan kedua yang sangat penting dari Penelitian Harvard Grant menyatakan bahwa kebahagiaan hidup berasal dari cinta, bukan cinta terhadap pekerjaan, tapi cinta kepada manusia: pasangan hidup kita, teman kerja kita, kawan-kawan kita, keluarga kita. Jadi masa kecil haruslah mengajarkan anak-anak kita bagaimana mengasihi, mereka tak bisa mengasihi orang lain jika tak mengasihi diri sendiri, dan mereka takkan mengasihi diri mereka jika kita tak memberi cinta tak bersyarat

Betul. Jadi, daripada terobsesi dengan nilai dan angka saat anak kita pulang dari sekolah, atau kita pulang dari kerja, kita harus kesampingkan teknologi, singkirkan telepon dan tatap mata mereka dan biarkan mereka melihat sukacita yang tersirat di wajah kita ketika kita melihat anak kita setelah terpisah beberapa saat. Dan kemudian kita harus bilang, "Bagaimana hari ini? Ada yang menarik hari ini?" Dan ketika anak remaja Anda bilang, "Makan siang," seperti anak saya, dan saya ingin tahu tentang tes matematika, bukan makan siang, Anda harus tetap menaruh minat pada makan siang. Anda harus bertanya, "Apa yang menarik dari makan siang hari ini?" Mereka harus tahu mereka penting bagi kita bukan karena IPK mereka.

Baik, jadi Anda pikir, tugas di rumah dan cinta semua kedengarannya baik dan bagus, tapi tunggu dulu. Universitas mengutamakan skor dan nilai tinggi, pujian dan penghargaan, dan mari saya beri tahu Anda. Sekolah ternama dan terbesar memang melihat itu semua, tapi ini kabar baiknya. Bertentangan dengan peringkat universitas yang kita percayai,

Tidak harus ke sekolah yang ternama untuk bahagia dan sukses dalam hidup. Orang-orang bahagia dan sukses masuk ke sekolah negeri, masuk ke universitas kecil yang tak terkenal, masuk ke sekolah tinggi, masuk ke sekolah di sini dan gagal. 

Buktinya ada di ruangan ini, dalam komunitas kita, inilah kenyataannya. Dan jika kita buka mata lebar-lebar dan bersedia melihat beberapa universitas lain, mungkin juga menghilangkan ego kita sendiri, kita bisa menerima dan menyadari kebenaran ini, bukanlah akhir dunia jika anak kita tidak masuk ke salah satu sekolah ternama tersebut. Lebih penting lagi, jika masa kecil mereka tidak seperti menjalani daftar dari tirani, saat mereka ke uni, yang mana pun itu, yang mereka masuki atas pilihan sendiri, didorong oleh keinginan mereka sendiri, mampu dan siap untuk bersaing di sana. Saya harus mengakui sesuatu pada Anda.

Saya punya dua anak, Sawyer dan Avery. Mereka remaja. Dahulu kala, persepsi saya dalam mendidik anak  adalah saya memperlakukan Sawyer dan Avery seperti pohon bonsai kecil yang akan saya potong dan rapikan dan bentuk menjadi manusia sempurna yang dijamin cukup bisa diterima di salah satu universitas yang sangat selektif. Tapi akhirnya saya sadar, setelah bekerja dengan ribuan anak orang lain dan membesarkan kedua anak saya sendiri, mereka bukanlah pohon bonsai. Mereka adalah bunga liar dari genus dan spesies yang tak dikenal dan tugas saya adalah menyediakan lingkungan yang sehat, 

Menguatkan mereka lewat tugas di rumah dan cinta, sehingga mereka bisa mencintai orang lain dan menerima cinta dan masalah universitas, jurusan, karir, itu terserah mereka. Tugas saya bukan membuat mereka menjadi apa yang saya inginkan, tapi mendukung mereka jadi pribadi mulia. Itulah mutiara moral dari cara mendidik anak yang menurut saya paling bisa diterapkan untuk kesukesan anak di masanya. 

Demikian, Terima kasih. (disadur dari Julie Lytchott-Haim Talklive)