Blog

Kembali ke blog
Serial Cara Mendidik Anak #1 : Membentuk Anak Sukses tanpa berlebihan

Saya tidak berencana menjadi pakar cara mendidik anak. Kenyataannya, saya tidak tertarik pada pengasuhan anak saja. Namun ada gaya dan cara mendidik anak tertentu belakangan ini yang agaknya membingungkan bagi si anak, dan menghambat kesempatan mereka untuk bertumbuh menjadi diri mereka. Ada gaya mendidik anak tertentu yang menghalanginya

Yang ingin saya katakan adalah, kita menghabiskan banyak waktu mengkhawatirkan para orang tua yang tidak cukup terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka serta pendidikan atau pola asuhnya, yang sudah pada tempatnya. Tapi di sisi lain, juga terdapat banyak kerugiannya, ketika orang tua merasa anaknya tidak bisa menjadi sukses kalau tidak dilindungi dan dibimbing dalam setiap langkahnya, mengawasi semua hal yang terjadi, mengatur setiap perilaku, dan mengarahkan anaknya dalam memilih kuliah dan karir

Jika kita membesarkan anak dan mendidik anak dengan cara seperti ini, dan saya mengatakan "kita," karena Tuhan YME tahu, ketika saya membesarkan dua anak remaja saya, saya cenderung melakukan hal yang sama, mengatur masa kecil anak-anak kita berdasarkan daftar keinginan saya

Dan daftarnya seperti ini. Kita menjaga mereka aman dan sehat, cukup makan dan minum, dan kita pastikan mereka masuk ke sekolah yang tepat, di kelas yang tepat dalam sekolah yang tepat, mendapat peringkat yang tepat di kelas yang tepat dalam sekolah yang tepat. Tidak hanya peringkatnya, nilainya juga, dan juga pujian dan penghargaan dan kegiatan olahraga, kegiatannya, kepemimpinannya. Kita katakan agar mereka tidak sekedar ikut sebuah klub, tapi dirikan sebuah klub, demi masa depannya. Dan lakukan kegiatan pelayanan masyarakat. Tunjukkan bahwa kau peduli pada orang lain.

Dan Cara mendidik anak seperti ini dimaksudkan untuk meraih suatu tingkat kesempurnaan. Kita mengharapkan anak-anak kita untuk tampil sempurna meski kita tak pernah dituntut untuk tampil sempurna, dan karena begitu banyak yang diperlukan, kita merasa bahwa tentu saja sebagai orang tua kita harus berdebat dengan setiap guru dan kepala sekolah dan pelatih dan wasit dan bertindak sebagai pengawas anak kita dan pengawas pribadi dan sekretaris, Lalu dengan anak kita tersayang kita habiskan banyak waktu untuk mendukungnya, membujuk, memberi petunjuk, membantu, bernegosiasi, terkadang juga merengek, agar mereka tidak gagal, tidak menutup pintu, tidak merusak masa depannya, beberapa berharap agar diterima masuk ke segelintir kampus yang menolak hampir semua pelamar

Beginilah rasanya menjadi anak yang masa kecilnya diatur. Pertama, tidak ada waktu untuk bermain dengan bebas. Tak ada waktu santai siang hari karena, kita merasa, setiap kegiatan harus ada unsur belajarnya. Seakan-akan setiap PR, setiap ulangan, setiap kegiatan adalah momen yang menentukan masa depan yang telah kita rancang untuk mereka, dan kita membebaskan mereka dari tugas membereskan rumah, dan bahkan membebaskan mereka dari tidur yang cukup asalkan mereka sudah melakukan rencana kegiatan yang telah kita atur. Dalam masa kecil yang serba diatur, katanya kita hanya ingin mereka bahagia, tapi waktu mereka pulang dari sekolah, hal pertama yang paling sering ditanyakan adalah PR dan nilai mereka. Yang mereka lihat di wajah kita ialah restu kita, kasih sayang kita, semua harga diri mereka, hanya jika mereka mendapatkan nilai A. Kemudian kita berjalan bersama mereka kita memuji mereka seperti pelatih di Pertunjukan Anjing Westminster.

Membujuk mereka untuk lompat lebih tinggi dan membumbung lebih jauh, hari demi hari. Saat mereka masuk sekolah menengah, mereka tidak berkata, "Oke, aku mau pilih belajar apa atau berkegiatan apa?" Mereka berkonsultasi dengan guru pembimbing, "Apa yang harus kulakukan untuk masuk ke universitas yang tepat?" Dan kemudian, saat nilai sekolah keluar, dan mereka mendapatkan nilai B, atau, amit-amit, nilai C, mereka gelisah dan meng-SMS teman-temannya dan bilang, "Pernahkah ada yang bisa masuk universitas bagus dengan nilai ini?"

Dan anak-anak kita, bagaimanapun nilai akhir sekolahnya mereka terengah-engah, Mereka menjadi rapuh. Mereka mulai kepayahan. Mereka dewasa sebelum waktunya, berharap orang-orang dewasa di sekitarnya berkata, "Yang kau lakukan sudah cukup, semua upaya yang kau lakukan di masa kecilmu sudah cukup." Dan sekarang mereka letih dalam tingkat kegelisahan dan depresi yang tinggi dan beberapa diantaranya bertanya-tanya, akankah hidup ini akan menjadi berarti?

Atau mungkin, kita hanya takut masa depan mereka tak akan bisa dibanggakan ke teman-teman kita dan tak ada stiker yang bisa kita tempel di belakang mobil. Itu semua keinginan kita tapi kemudian kita terapkan langsung kepada anak dengan cara mendidik anak sangat berlebihan.

Bukan tindakan orang tua yang mengatasnamakan dirinya, namun tindakan dirinya sendiri yang mengarahkan hasilnya. Jadi intinya, cara mendidik anak apabila anak-anak ingin membangun keyakinan diri, dan itu memang harus dilakukan, maka mereka harus lebih banyak berpikir, merencanakan, memutuskan, melakukan, berharap, berusaha mengatasi, mencoba dan gagal, bermimpi dan mengalami hidup untuk diri mereka sendiri. 

Sekarang, apakah saya bilang kalau setiap anak pekerja keras dan termotivasi dan tidak membutuhkan campur tangan orang tua dalam kehidupannya, dan kita mundur saja dan biarkan mereka? Tidak !

Bukan itu maksud saya. Maksud saya, bila kita menganggap angka, nilai, pujian, dan penghargaan sebagai tujuan masa kecil, yang semuanya ditujukan untuk lolos ujian masuk ke segelintir universitas atau jalan masuk ke segelintir peluang karir, maka definisi sukses itu terlalu sempit bagi anak-anak kita. Dan meskipun kita mungkin membantu mereka meraih keberhasilan kecil, dengan bantuan berlebih -- seperti membantu mereka mengerjakan PR dan mendapatkan nilai tinggi, kemungkinan masa kecil mereka akan lebih panjang jika kita membantu -- yang saya maksudkan ialah semua ini membawa kerugian jangka panjang terhadap jati diri mereka. Jadi kita sebaiknya mengurangi kekhawatiran kita terhadap universitas mana yang mungkin dapat mereka masuki dan jauh lebih memperhatikan kebiasaan, pola pikir, keterampilan, kesehatan dan keberhasilan kemana pun mereka melangkah. Yang ingin saya sampaikan ialah acara mendidik anak agar kita tidak terlalu terobsesi dengan nilai dan angka anak-anak kita namun lebih memperhatikan bagaimana menjadikan masa kecil mereka menyediakan dasar bagi kesuksesan mereka yang dibangun dari hal-hal seperti kasih sayang dan pembagian tugas di rumah.

Tugas di rumah? Apa benar, tugas di rumah? Ya, benar. Inilah sebabnya. Penelitian longitudinal manusia terpanjang yang pernah dilakukan adalah Penelitian Harvard Grant. Ternyata kesuksesan secara profesional dalam hidup, yang kita inginkan untuk anak-anak kita, datang dari melakukan tugas di rumah semasa kecil, dan semakin cepat dimulai, semakin baik, pola pikir singsingkan lengan bajumu dan sesuaikan diri, pola pikir yang bilang ada perkerjaan tak menyenangkan, seseorang harus melakukannya, mungkin itu aku, pola pikir yang bilang, saya akan berkontribusi untuk kemajuan secara keseluruhan, dan itulah yang membuat Anda menonjol di tempat kerja. Sekarang, kita semua tahu ini. Anda tahu hal ini.

Kita semua tahu ini, tapi, dalam daftar tugas masa kecil, kita bebaskan anak-anak dari pekerjaan di rumah, dan akhirnya mereka beranjak dewasa dan di tempat kerja masih mengharapkan adanya daftar, tapi daftar itu tak ada, dan yang lebih penting lagi, mereka kurang memiliki dorongan, naluri untuk menyingsingkan lengan baju dan menyesuaikan diri dan mengamati sekitar dan berpikir, apa yang bisa saya lakukan buat yang lain? Bagaimana mengantisipasi hal-hal yang mungkin dibutuhkan atasan saya?

Temuan kedua yang sangat penting dari Penelitian Harvard Grant menyatakan bahwa kebahagiaan hidup berasal dari cinta, bukan cinta terhadap pekerjaan, tapi cinta kepada manusia: pasangan hidup kita, teman kerja kita, kawan-kawan kita, keluarga kita. Jadi masa kecil haruslah mengajarkan anak-anak kita bagaimana mengasihi, mereka tak bisa mengasihi orang lain jika tak mengasihi diri sendiri, dan mereka takkan mengasihi diri mereka jika kita tak memberi cinta tak bersyarat

Betul. Jadi, daripada terobsesi dengan nilai dan angka saat anak kita pulang dari sekolah, atau kita pulang dari kerja, kita harus kesampingkan teknologi, singkirkan telepon dan tatap mata mereka dan biarkan mereka melihat sukacita yang tersirat di wajah kita ketika kita melihat anak kita setelah terpisah beberapa saat. Dan kemudian kita harus bilang, "Bagaimana hari ini? Ada yang menarik hari ini?" Dan ketika anak remaja Anda bilang, "Makan siang," seperti anak saya, dan saya ingin tahu tentang tes matematika, bukan makan siang, Anda harus tetap menaruh minat pada makan siang. Anda harus bertanya, "Apa yang menarik dari makan siang hari ini?" Mereka harus tahu mereka penting bagi kita bukan karena IPK mereka.

Baik, jadi Anda pikir, tugas di rumah dan cinta semua kedengarannya baik dan bagus, tapi tunggu dulu. Universitas mengutamakan skor dan nilai tinggi, pujian dan penghargaan, dan mari saya beri tahu Anda. Sekolah ternama dan terbesar memang melihat itu semua, tapi ini kabar baiknya. Bertentangan dengan peringkat universitas yang kita percayai,

Tidak harus ke sekolah yang ternama untuk bahagia dan sukses dalam hidup. Orang-orang bahagia dan sukses masuk ke sekolah negeri, masuk ke universitas kecil yang tak terkenal, masuk ke sekolah tinggi, masuk ke sekolah di sini dan gagal. 

Buktinya ada di ruangan ini, dalam komunitas kita, inilah kenyataannya. Dan jika kita buka mata lebar-lebar dan bersedia melihat beberapa universitas lain, mungkin juga menghilangkan ego kita sendiri, kita bisa menerima dan menyadari kebenaran ini, bukanlah akhir dunia jika anak kita tidak masuk ke salah satu sekolah ternama tersebut. Lebih penting lagi, jika masa kecil mereka tidak seperti menjalani daftar dari tirani, saat mereka ke uni, yang mana pun itu, yang mereka masuki atas pilihan sendiri, didorong oleh keinginan mereka sendiri, mampu dan siap untuk bersaing di sana. Saya harus mengakui sesuatu pada Anda.

Saya punya dua anak, Sawyer dan Avery. Mereka remaja. Dahulu kala, persepsi saya dalam mendidik anak  adalah saya memperlakukan Sawyer dan Avery seperti pohon bonsai kecil yang akan saya potong dan rapikan dan bentuk menjadi manusia sempurna yang dijamin cukup bisa diterima di salah satu universitas yang sangat selektif. Tapi akhirnya saya sadar, setelah bekerja dengan ribuan anak orang lain dan membesarkan kedua anak saya sendiri, mereka bukanlah pohon bonsai. Mereka adalah bunga liar dari genus dan spesies yang tak dikenal dan tugas saya adalah menyediakan lingkungan yang sehat, 

Menguatkan mereka lewat tugas di rumah dan cinta, sehingga mereka bisa mencintai orang lain dan menerima cinta dan masalah universitas, jurusan, karir, itu terserah mereka. Tugas saya bukan membuat mereka menjadi apa yang saya inginkan, tapi mendukung mereka jadi pribadi mulia. Itulah mutiara moral dari cara mendidik anak yang menurut saya paling bisa diterapkan untuk kesukesan anak di masanya. 

Demikian, Terima kasih. (disadur dari Julie Lytchott-Haim Talklive)