Blog

Kembali ke blog
Serial Cara Mendidik Anak #4 : MENGENAL KEMAMPUAN ANAK PADA USIA 6-10 TAHUN

Selain mengenali ciri-ciri/karakteristik anak sesuai usianya, orangtua agar tahu cara mendidik anak yang sesuai juga harus mengetahui tugas-tugas perkembangan, yakni kemampuan yang harus mereka pelajari di usia ini untuk mencapai usia selanjutnya. Dengan mengetahui tugas perkembangan (kemampuan) yang harus dicapai, orangtua dapat memberi kegiatan yang dapat membantu anak untuk bisa melakukan apa yang seharusnya. Bila anak dapat menguasai tugas perkembangan sesuai usianya maka akan memudahkan untuk melampaui perkembangan di usia selanjutnya.
Apa kemampuan yang harus dicapai selama usia 6-10 tahun? 

1. Mengenal Tuhan melalui ciptaanNya
2. Memahami adanya kesertaan Tuhan dalam kesehariannya
3. Mampu beribadah sesuai agama masing-masing
4. Membiasakan diri untuk membaca do’a-do’a sehari hari
5. Membentuk hati nurani, nilai moral, dan nilai sosial dengan mengenal aturan dan adab sehari-   hari berdasarkan budaya dan agama masing-masing.
6. Belajar keterampilan fisik untuk melakukan permainan, seperti bermain sepak bola, loncat tali, berenang, bersepeda, dll.
7. Anak belajar hidup sehat, dengan memperhatikan kebersihan diri dan lingkungannya.
8. Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya, dengan bermain bersama teman-temannya.
9. Belajar bertingkah laku (berpakaian, berbicara dll) sesuai jenis kelaminnya.
10.Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis, berhitung
11.Belajar mengembangkan konsep sehari-hari, seperti mengenal waktu, bahasa
12.Memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Dengan belajar mandiri dan dihargai sebagai dirinya sendiri.
13.Belajar bekerjasama/gotong royong, bekerja dalam tim
14.Belajar displin mematuhi aturan di keluarga, di sekolah dan di masyarakat
15.Belajar bertanggung jawab atas konsekwensi dari pilihannya. 

Cara mendidik anak dengan ciri seperti ini adalah menghadirkan kegiatan di rumah dan di sekolah sebaiknya membantu anak untuk bisa memiliki kemampuan dan ketrampilan sesuai tugas perkembangannya di usianya ini. Sehingga kelak ia bisa tumbuh lebih baik diusia selanjutnya.

Di usia ini anak juga mengalami perkembangan otak yang meningkat. Anak-anak berpikir lebih cepat dan lebih efektif. Kemampuan ini memungkinkan anak untuk belajar dengan baik dan orangtua sebaiknya memberi anak informasi dengan mengajak anak berbicara, berdiskusi, menyediakan buku cerita, cara mendidik anak pada kondisi ini adalah mengajak anak berkunjung ke tempat-tempat bersejarah dan tempat wisata. Dengan adanya kesempatan melihat obyek-obyek langsung dan bertukar pikiran dengan orangtua atau dengan orang lain yang lebih berilmu, maka anak akan memiliki wawasan yang luas dan kepintarannya akan bertambah.

Bkkbn Indonesia

Serial Cara Mendidik Anak #2 : Mendidik Anak di era Digital

Cara Mendidik anak pada era digital ini akan semakin menantang dimana ada perubahan pola dibanding era sebelumnya. Orang tua tidak boleh kalah dengan perkembangan teknologi digital, harus terdapat upgrade pengetahuan juga yang menyesuaikan dengan aspek psikologis anak.
Berikut ini adalah tips Cara mendidik anak berdasar usianya terkait dengan era digital.
 
Cara Mendidik Anak Usia 8-12 tahun

1. Memiliki kesepakatan yang dipahami dan dijalani bersama, memonitor pelaksanaannya, konsisten menerapkan konsekuensi atas pelanggaran, dan memberikan apresiasi atas keberhasilan dalam menjalankan
kesepakatan.
2. Memanfaatkan program atau video yang menunjukkan berbagai pengalaman positif yang menstimulus imajinasi.
3. Mendiskusikan perilaku baik dan tidak dari karakter di media yang mereka kenal.
4. Diskusikan hal-hal terkait peran laki-laki dan perempuan.
5. Menghindari tayangan program media digital yang menampilkan agresivitas, antisosial, dan perilaku negatif lainnya.
6. Memberikan pemahaman tentang lelucon mengenai anggota tubuh.
7. Menghindari tayangan iklan yang bertebihan terutama mengenai pola dan nutrisi makanan yang tidak sehat.
8. Menghindari tayangan gambar atau iklan rokok.

Selanjutnya Cara mendidik anak untuk usia Remaja (12-18 tahun)

1. Memiliki kesepakatan yang dipahami dan dijalani bersama, memonitor pelaksanaannya, konsisten menerapkan konsekuensi atas pelanggaran, dan memberikan apresiasi atas keberhasilan anak dalam menjalankan kesepakatan.
2. Memperkenalkan keanekaragaman, ras, etnis dan situasi ekonomi.
3. Mengajak anak berpikir kritis atas tayangan informasi dengan cara mengajukan pertanyaan seperti: "Menurut kamu apa yang paling menarik dari video ini?"
4. Memanfaatkan tayangan pada media dan iklan untuk membicarakan berbagai karakter.
5. Memanfaatkan media blogs untuk melatih anak berpikir kritis dan membimbing mereka untuk menjadi penulis, bukan hanya pembaca
6. Mengajak anak untuk mengeksploarsi lebih jauh minat dan bakatnya.
7. Menghindari tayangan iklan rokok, minuman keras, dan narkoba.
8. Menanamkan etika berkomunikasi positif di media sosial
9. Memperhatikan pengaturan privasi dalam media digital, khususnya media sosial.
10. Membatasi aktifitas anak di sosial media.

Menjadi (lebih) peduli, bukan berarti orang tua harus piawai dan paham segala macam hal dan istilah teknis dari perangkat dan media digital yang akan dibeli atau telah digunakan oleh anaknya. Selama anak masih tergantung kepada orang tua, maka orang tua wajib mengetahui, bukan membatasi, untuk apa dan bagaimana perangkat dan media digital digunakan oleh anak.
Orang tua sebaiknya paham, bahwa perangkat dan media digital adalah teknologi yang bak pisau bermata dua. Apabila Salah digunakan, bisa mencelakai penggunanya. Semakin canggih perangkat dan media digital yang digunakan, semakin "tajam pisau"-nya. Ini membutuhkan ekstra tanggung-jawab dari penggunanya, ataupun orang tua. Menjadi awal kesalahan apabila orang tua dalam mendidik anak menyerahkan keputusan menggunakan perangkat dan media digital sepenuhnya kepada anak.
Perilaku berkomunikasi internal keluarga dan peran orang tua adalah faktor dominan dan penentu untuk melindungi anak dan keluarga dari penggunaan perangkat digital dan paparan media digital.

Direktorat Pembinaan Pendidikan Ketuarga
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
2016